Manajemen Strategis Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill) Vokasional
a. Pengertian
Dari studi
komprehensif berbagai definisi atau konsep manajemen sangat bervariasi, suatu
definisi biasanya diwarnai dan sangat bergantung serta ditentukan oleh latar
belakang kehidupan, pendidikan, dasar falsafah, tujuan maupun sudut pandang
dari mana para ahli dalam memulai
melihat persoalan, kepentingan, proses maupun sasaran yang ingin dicapai.
Manajemen strategis adalah serangkaian keputusan dan
tindakan manajerial yang menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang.
Meliputi pengamatan lingkungan, perumusan strategi, implementasi strategi, evaluasi
dan pengendalian. Oleh karena itu, manajemen strategis
menekankan pada pengamatan dan evaluasi kesempatan (Opportunity) dan ancaman (Threat)
lingkungan dipandang dari sudut kekuatan (Strenght)
dan Kelemahan (Weakness). Hal
tersebut penting baik internal maupun eksternal yang paling penting untuk organisasi masa depan disebut faktor
strategis dan diidentifikasi melalui analisis SWOT.
Pendidikan
kecakapan hidup (life skills) adalah
pendidikan yang dapat memberikan bekal keterampilan yang praktis, terpakai,
terkait dengan kebutuhan pasar kerja, peluang usaha dan potensi ekonomi atau industri yang ada di
masyarakat.
Dengan
demikian manajemen strategis
pendidikan kecakapan hidup (life skill) Vokasional adalah serangkaian keputusan dan tindakan manajerial
dalam memberikan bekal keterampilan yang praktis, terpakai, terkait dengan
kebutuhan pasar kerja, peluang usaha dan
potensi ekonomi atau industri dengan memperhatikan analisis lingkungan,
perumusan strategi, implementasi strategi, evaluasi dan pengendalian. Life
skill ini memiliki cakupan yang luas terjadinya interaksi antara pengetahuan
yang diyakini sebagai unsur penting untuk hidup lebih mandiri.
Manajemen
strategi sebagai suatu bidang ilmu pengetahuan menggabungkan kebijakan bisnis
dengan lingkungan dan tekanan strategi. PKBM setelah mengidentifikasi faktor-faktor
strategis, manajemen mengevaluasi interaksinya dan menentukan misi yang sesuai. Langkah pertama dalam merumuskan
strategi adalah pernyataan misi, yang berperan penting dalam menentukan tujuan,
strategi, dan kebijakan lembaga. Lembaga mengimplementasi strategi dan
kebijakan tersebut melalui program, anggaran, dan prosedur. Akhirnya, evaluasi
kinerja dan umpan balik untuk memastikan
tepatnya pengendalian aktivitas lembaga.
Manajemen
strategis dibanyak organisasi cenderung dikembangkan dalam empat tahap, dimulai
dari perencanaan keuangan dasar keperencanaan berbasis peramalan yang biasa
disebut perencanaan strategis (hanya perumusan strategi) ke manajemen strategis
yang berkembang sepenuhnya termasuk implementasi dan evaluasi dan pengendalian.
Penelitian menyatakan bahwa organisasi yang menggunakan manajemen strategis
cenderung berkinerja lebih baik dibandingkan yang tidak. Pada banyak organisasi, keputusan strategis penting
terjadi hanya jika ada kejadian yang memicu setelah adanya penyimpangan
strategis yang cukup panjang. Model manajemen strategis dimulai dari
pengnamatan lingkungan ke perumusan strategi (termasuk menetapkan misi, tujuan,
strategi, dan kebijakan). Diteruskan ke implementasi strategi (termasuk pengembangan
program, anggaran, dan prosedur) dan terakhir evaluasi dan pengendalian.
Kepemimpinan
dan manajemen strategis sangat penting karena berpengaruh terhadap organisasi
secara keseluruhan. Orang-orang dalam organisasi perlu memiliki visi untuk apa
yang akan mereka lakukan ke depan, pemahaman misi. Karakteristik manajemen
puncak adalah tugas itu membutuhkan kapabilitas dan temperamen. Beberapa tugas
memerlukan kemampuan untuk menganalisis dan menimbang-nimbang secara hati-hati
berbagai alternatif tindakan. Beberapa tugas memerlukan kepedulian dan minat
terhadap oramg-orang, dan yang lainnya membutuhkan kemampuan untuk mempunyai ide
abstrak, konsep, dan perhitungan-perhitungan.
Robert
L.Katz menyatakan bahwa efektifitas manajemen tergantung pada ketepatan bauran
tiga keahlian dasar: 1) keahlian teknis, berkaitan dengan apa yang dilakukan
dan bekerja dengan sesuatu; terdiri dari kemampuan untuk menggunakan teknologi
untuk menyelesaikan tugas-tugas organisasional. 2) keahlian manusia, berkaitan
dengan bagaimana sesuatu dilakukan dan bekerja dengan orang; terdiri dari
kemampuan untuk bekerja dengan oraang lain untuk mencapai sasaran. 3) keahlian konseptual, berkaitan dengan mengapa
sesuatu dilakukan dan cara pandang orang terhadap organisasi secara
keseluruhan; terdiri dari kemampuan untuk memahami kompleksitas organisasi
karena kompleksitas itu dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan.
Adapun konsep pendidikan
kecakapan hidup (life skill)
vokasional
merupakan
salah satu fokus analisis dalam pengembangan kurikulum pendidikan yang menekankan pada
kecakapan hidup atau bekerja. Life skill memiliki makna yang luas dari employability skills dan vocational skills. Keduanya merupakan
bagian dari
program pendidikan kecakapan hidup (Life Skill). Brolin (1989) dalam Anwar menjelaskan bahwa life skills constitute a continuum of
knowledge aptitude that are necessary for person to function effectively and to
avoild interupptions of employment experience. Dengan demikian life
skills dapat dinyatakan sebagai kecakapan untuk hidup. Istilah hidup tidak
semata-mata memiliki kemampuan tertentu saja (vocational job), namun ia harus memiliki kemampuan dasar
pendukungnya secara fungsional seperti
membaca, menulis, menghitung, merumuskan, dan memecahkan masalah mengelola
sumber daya, bekerja dalam tim, terus belajar di tempat kerja, mempergunakan teknologi
(Satori, 2002).
Pendidikan kecakapan hidup mengacu pada berbagai ragam
kemampuan yang diperlukan seseorang untuk menempuh kehidupan dengan sukses,
bahagia dan secara bermartabat di masyarakat. Pendidikan
kecakapan hidup merupakan kemampuan
komunikasi secara efektif, kemampuan mengembangkan kerjasama, melaksanakan
peranan sebagai warga negara
yang bertanggungjawab, memiliki kesiapan serta kecakapan bekerja, dan memiliki
karakter dan etika untuk terjun ke dunia kerja.
Pendidikan
kecakapan hidup merupakan layanan pendidikan melalui pemberian kursus dan
pelatihan untuk memberikan bekal pengetahuan,
keterampilan dan menumbuhkan sikap mental wirausaha dalam mengelola
potensi diri dan lingkungan yang dapat dijadikan untuk berwirausaha. Tujuan penyelenggaraan program pendidikan
kecakapan hidup sebagai berikut: (1) Memberikan bekal pengetahuan,
keterampilan, sikap dan pola pikir berwirausaha melalui
kursus dan pelatihan kepada warga
belajar, (2) Memotivasi warga
belajar dan menciptakan rintisan usaha baru serta pendampingan untuk berkembang
dan mampu bermitra dengan dunia usaha dan dunia industri serta instansi
terkait.
Beberapa
prinsip pelaksanaan life skills educational, yaitu: (1) etika sosio-religius bangsa yang
berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan diintegrasikan, (2) pembelajaran
menggunakan prinsip learning to know,
learning to do, learning to be, learning to live together and learning to
coooperate, (3) pengembangan potensi wilayah dapat direfleksikan dalam
penyelenggaraan pendidikan, (4)
penetapan manajemen berbasis masyarakat, kolaborasi semua unsur terkait
yang ada dalam masyarakat, (5) paradigma learning
for life dan shool for work dapat
menjadi dasar kegiatan pendidikan, sehingga memiliki pertautan dengan dunia
kerja, (6) penyelenggaraan pendidikan harus senantiasa mengarahkan warga
belajar agar: (a) membantu mereka untuk
menuju hidup sehat dan berkualitas, (b) mendapatkan pengetahuan dan wawasan
yang lebih baik luas, dan (c) memiliki akses untuk mampu memenuhi standar
hidupnya secara layak (Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2002).
Pendidikan kecakapan hidup lebih luas dari sekedar
keterampilan bekerja, apalagi sekedar keterampilan manual. Life skill konsep pendidikan yang bertujuan untuk
mempersiapkan warga belajar agar memiliki keberanian dan kemauan menghadapi
masalah hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan kemudian secara
kreatif menemukakan solusi serta mampu mengatasinya. Indikator-indikator yang
terkandung dalam life skills tersebut secara konseptual dikelompokkan, sebagai
berikut:
1.
Kecakapan
mengenal diri (self awarness) atau
sering juga disebut kemampuan personal (personal
skills/PS).
Kecakapan personal mencakup kesasaran diri dan berpikir rasional. Kesadaran
diri merupakan tuntutan mendasar bagi warga belajar untuk mengembangkan potensi dirinya dimasa yang
akan datang. Kesadaran diri terdiri dari: kesadaran akan eksistensi diri
sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, mahluk sosial, dan mahluk lingkungan
dan kesadaran akan potensi diri dan
dorongan untuk mengembangkannya. (Dikdasmen, 2004). Kesadaran diri difokuskan
pada kemampuan warga belajar
untuk melihat dirinya dalam hubungannya dengan lingkungan keluarga,
kebiasaanya, kegemarannya, dan sebagainya. Pada tataran yang lebih tinggi, warga
belajar akan semakin memahami posisi
dirinya dilingkungan kelasnya, sekolahnya, desanya, minat dan bakat, dan
seterusnya. Kecakapan berpikir merupakan kecakapan dalam mengunakan rasio atau
pikiran. Kecakapan ini meliputi kecakapan menggali informasi, mengolah
informasi, dan mengambil keputusan secara cerdas, serta mampu memecahkan
masalah secara tepat dan baik.
2.
Kecakapan
berpikir rasional (thinking skills)
atau kecakapan akademik (academic skils/AS)
Kecakapan akademik seringkali disebut juga kecakapan intelektual atau
kemampuan berpikir ilmiah yang pada dasarnya merupakan pengembangan dari
kecakapan berpikir secara umum, namun mengarah kepada kegiatan yang bersifat
keilmuan. Kecakapan ini mencakup antara lain kecakapan mengidentifikasi
variabel, menjelaskan hubungan suatu fenomena tertentu, merumuskan hipotesis,
merancang dan melaksanakan penelitian. Untuk membangun kecakapan-kecakapan
tersebut diperlukan pula sikap ilmiah, krtitis, objektif dan transparan.
3.
Kecakapan
sosial (social skills)
Kecakapan sosial ini meliputi: kecakapan berkomunikasi dan kecakapan
bekerjasama. Kecakapan berkomunikasi dapat dilakukan baik secara lisan maupun
tulisan. Sebagai mahluk sosial yang hidup dalam masyarakat tempat tinggal
maupun tempat kerja, warga belajar sangat memerlukan kecakapan berkomunikasi baik secara lisan maupun
tulisan.
Kecakapan bekerjasama bekerja dalam kelompok atau tim merupakan suatu
kebutuhan yang tidak dapat dielakan sepanjang manusia hidup. Salah satu hal
yang diperlukan untuk bekerjasama dalam kelompok adalah adanya kerjasama.
Kemampuan bekerjasama perlu dikembangkan agar warga belajar terbiasa memecahkan masalah yang sifatnya
agak kompleks. Kerjasama yang dimaksudkan adalah kerjasama adanya saling
pengertian dan membantu antar sesama untuk mencapai tujuan yang baik, hal ini
agar warga belajar terbiasa
dan dapat membangun semangat komunitas yang harmonis.
4.
Kecakapan
vokasional (vocational skills/VS)
sering juga disebut dengan keterampilan kejuruan artinya keterampilan yang
dikaitkan dengan pekerjaan tertentu dan bersifat spesifik (spesifik skills) atau keterampilan teknis (technical skills).
Kecakapan ini seringkali disebut dengan kecakapan kejuruan, artinya suatu
kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat
atau lingkungan warga belajar. Kecakapan vokasional lebih cocok untuk warga belajar yang menekuni pekerjaan yang mengandalkan
keterampilan psikomotorik daripada kecakapan berpikir ilmiah. Kecakapan
vokasional memiliki dua bagian, yaitu: kecakapan vokasional dasar dan kecakapan
vokasional khusus yang sudah terkait dengan bidang pekerjaan tertentu.
Kecakapan dasar vokasional bertalian dengan bagaimana warga belajar menggunakan alat sederhana, misalnya:
obeng, palu, dan lain-lain. Melakukan gerak dasar dan membaca gambar sederhana,
kecakapan ini terkait dengan sikap taat azas, presisi, akurasi dan tepat waktu
yang mengarah kepada perilaku produktif. Sedangkan vokasional khusus hanya
diperlukan bagi mereka yang akan menekuni pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya.
Misalnya: pekerja montir, apoteker, tehnisi, atau meramu menu bagi yang
menekuni pekerjaan tata boga, dan sebagainya.
Berbagai keahlian atau kecakapan sangat diperlukan
dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, pendidikan yang berorientasi
kepada masyarakat harus mampu mengedepankan pendidikan yang mempunyai dasar
pada kecakapan hidup. Upaya penumbuhan kecakapan hidup dalam pendidikan pada
jenis, jenjang dan satuan pendidikan atau pelatihan yang sesuai dengan tujuan
pendidikannya dapat diselenggarakan dengan pola broad based education. Pendidikan berorientasi kecakapan hidup melalui
pendekatan Broad-Based Education
(pendidikan berbasis luas), yaitu kebijakan penyelenggaraan pendidikan yang
diperuntukkan bagi kepentingan lapisan masyarakat terbesar. Sifat dasar yang
menonjol dari lapisan masyarakat terbesar adalah pendidikan yang menenkankan
life skill atau bekerja. Perkembangan IPTEK yang begitu cepat mengakibatkan
inovasi pengetahuan begitu melimpah, sehingga orang tidak akan mampu mempelajari
semuanya. Karena itu harus dipilih bagian-bagian yang esensial. Dalam era
sekarang seseorang selain membutuhkan kecakapan umum, juga membutuhkan :
kemampuan belajar bagaimana belajar” (learning
how to learn) dengan harapan dapat digunakan untuk belajar sendiri, jika
seseorang ingin mengembangkan diri dikemudian hari.
Perkembangan IPTEK yang cepat membuat
pengetahuan yang saat ini (up to date),
seringkali sudah usang setelah warga belajar lulus. Dengan modal learning how to learn dan general
life skill yang dimiliki mereka dapat mempelajari pengetahuan baru.
Pemahaman itulah yang mendasari konsep berbasis luas (broad based education-BBE), bahwa pendidikan mengoptimalkan potensi
yang dimiliki warga belajar
sebagai bentuk syukur terhadap anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu,
pendidikan harus mendasarkan pada kebutuhan masyarakat secara luas degan
menekankan pada penguasaan life skill
generik sebagai pondasi pengembangan diri lebih lanjut.
Dengan demikian konsep pendidikan berbasis
luas berlaku di seluruh jenjang pendidikan. Pendidikan berbasis luas merupakan
pendekatan yang memberikan orientasi yang lebih menyeluruh, kuat dan mendasar,
sehingga memungkinkan warga masyarakat yang terjadi pada dirinya, baik yang
berkaitan dengan pekerjaan maupun di lingkungan masyarakat. Perkembangan
peradaban masyarakat telah menuntut kesanggupan sistem pendidikan memiliki
keterkaitan dengan tuntutan masyarakat luas dan duna kerja. Dengan demikian
paradigma school to work harus selalu
menjadi landasan semua kegiatan pendidikan. Sebenarnya yang diperlukan
masyarakat sekarang adalah reorientasi pendidikan dari orientasi pencapaian
tujuan (subject mater oriented
menjadi orientasi kecakapan hidup (life
skill oriented) (Direktur Pendidikan menangah Umum, 2002), ini berarti
bahwa bahan belajar dipahami sebagai alat dan bukan tujuan. Bahan belajar
adalah alat untuk mengembangkan life
skill yang akan digunakan warga belajar menghadapi kehidupan nyata.
Life skill yang dipilih hendaknya diyakini dapat menjadikan mampu
mendapatkan penghasilan layak, untuk itu perlu dilakukan need assessment guna membentuknya kecakapan yang dimiliki seseorang
untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa
tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukakan solusi
sehingga akhirnya mampu mengatasinya. Satori (2002) mencoba menyajikan suatu
model hubungan antara life skills,
employability skills, vocational skills, dan spesific occcupational skills. Konsep life skills mengacu pada serangkaian
keterampilan yang mendukung seseorang untuk menunaikan pekerjaanya supaya
berhasil, meliputi tiga keterampilan utama, yaitu:
1. Keterampilan dasar
a.
Keterampilan
berkomunikasi lisan
b.
Membaca
(mengerti dan dapat mengikuti alur pikir)
c.
Penguasaan
dasar-dasar berhitung
d.
Keterampilan
menulis
2. Keterampilan berfikir tingkat tinggi
a.
Keterampilan
pemecahan masalah
b.
Keterampilan
belajar
c.
Keterampilan
berfikir inovatif dan kreatif dan keterampilan membuat keputusan
3. Karakter dan keterampilan afektif
a.
Tanggung
jawab
b.
Sikap
positif terhadap pekerjaan
c.
Jujur,
hati-hati, teliti dan efisien
d.
Hubungan
antar pribadi, kerjasama dan bekerja dalam tim
e.
Penyesuaian
diri dan memiliki sikap positif terhadap diri sendiri
f.
Penyesuaian
diri dan fleksibel
g.
Penuh
antusias dan motivasi
h.
Disiplin
dan penguasaan diri
i.
Berdandan
dan berpenampilan menarik
j.
Memilik
integritas pribadi
k.
Mampu
bekerja mandiri tanpa pengawasan orang lain.
Menurut Satori (2002) jika
employability skills dihubungkan
dengan pekerjaan tertentu, maka dapat mengarah pada vocational skills, yang intinya tertelah pada penugasan spesific occupational job, yaitu keterampilan
khusus untuk melakukan pekerjaan tertentu.
Pengembangan life skills dalam konteks pendidikan formal (sekolah) selayaknya
difokuskan pada penguasaan spesific occupational
skills (pekerjaan tertentu/spesifik). Program tersebut merupakan elaborasi
yang dengan sendirinya dijiwai oleh pemaknaan life skills, employability skills, dan vocational skills. Jika dicermati dengan seksama, maka dapat
dikatakan bahwa life skills dalam
kontek kepemilikan spesific occupational
skills sesungguhnya diperlukan oleh setiap orang. Artinya pengembangan
program life skills dalam dimensi tersebut sejatinya menyatu dengan program
pendidikan yang melembaga (PF dan PNF). Pada konteks ini maka konsep pendidikan di sekolah bahwa semua warga
belajar yang dinyatakan telah
menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu seharusnya telah memiliki life
skills. Dalam pendidikan formal di Indonesia, masalah tersebut sangat relevan
jika dikaitkan dengan lulusan SLTP dan SMU yang tidak melanjutkan ke jenjang
yang lebih tinggi. Pengembangan
program life skills pada jenjang tersebut diharapkan dapat membantu mereka untuk
meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri dalam mencari nafkah dalam konteks
peluang yang ada di lingkungan sosialnya (Satori, 2002). Dalam konteks
pendidikan non formal khususnya bagi anak yang berada pada kelompok usia
pendidikan dasar dan menengah yang tidak dapat mengikuti pendidikan formal
karena berbagai alasan, seperti: letak pemukiman yang jauh dari sekolah,
tingkat pendapatan keluarga yang tidak mampu membiayai pendidikanya, dan karena
bencana alam/kerusuhan. Bagi mereka pendidikan alternatif pada jalur pendidikan non formal
sepatutnya lebih banyak memiliki muatan life
skills khususnya spesific
occupational skills sesuai dengan kondisi lingkungan alam dan lingkungan
sosial budayanya.
Beragam pengertian tentang life skills
telah dikemukakan oleh para pakar, antara lain: (1) Life skills include a wide range of knwoledge and skill interaction
believed to be essential for adult independent living (Brolin dalam
Goodship, 2001). (2) In essence, life
skills ar an “owner’s manual for the huan body. These skills help childrens
learn to how maintain their bodies, grow as individuals, work well with
othwers, make logical decisions, protect them selves when they have to and achieve their
goals in life (davis,
2000) dan (3) Kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang
untuk mau dan berani menghadapi problem hidup dan kehidupan secara wajar tanpa
merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukakan
solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya. (Tim BBE, Depdiknas, 2002)
Pendidikan berbasis kecakapan hidup menurut Slamet (2002) sebaiknya
ditempuh melalui lima tahapan, yaitu:
1. Didefinisikan
dari hasil penelitian, pilihan-pilihan dan dugaan-dugaan para ahli tentang
nilai-nilai kehidupan yang berlaku.
2. Informasi
yang telah diperoleh digunakan untuk mengembangkan kompetensi kecakapan
hidup yang menunjukkan
kemampuan, kesanggupan, dan keterampilan untuk menjaga hidup dan
perkembangannya dalam dunia yang sarat perubahan.
3. Kurikulum/program
dikembangkan berdasarkan kompetensi kecakapan hidup yang telah dirumuskan yang memungkinkan dapat
diajarkan/dikembangkan kepada warga belajar disusun berdasarkan kompetensi yang telah
dipilih.
4. Penyelanggaraan
kecakapan hidup perlu
dilaksanakan dengan jitu agar kurikulum berbasis life skills dapat dilaksanakan
secara cermat.
5. Evaluasi
kecakapan hidup perlu
dibuat berdasarkan kompetensi yang telah dirumuskan pada langkah kedua. Karena
evaluasi pembelajaran dirumuskan bedasarkan kompetensi, maka penilaian terhadap
prestasi belajar warga belajar tidak hanya tes tertulis, melainkan juga dengan unjuk kerja.
Kecakapan ini adalah kecakapan dalam
berinteraksi dengan lingkungan, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial
dan lingkungan lain dalam kehidupan manusia. Sesorang butuh atmosfir yang
sehat, sarana dan prasarana yang memadai bagi kelangsunga hidupnya, juga butuh
bersosialisasi menurut aturan, tata cara, etika dan estetika yang berlaku
tentang bagaimana ia dapat berinteraksi dengan kedua jenis lingkungan.
Seseorang juga harus berinteraksi secara harmonis dan seimbang baik secara
horizontal (hablum minannas) dan
secara vertikal (hablum minalloh).
Kedua hubunga tersebut memerlukan berbagai kecakapan yang harus dikuasai oleh
seseorang agar tercipta kedamaian, ketenangan, kedisiplinan dan ketentraman
hidup.
Kecakapan ini adalah kecakapan yang berhubungan dengan bagaimana seseorang
menjalani kehidupan. Artinya bagaimana ia memilih jalan hidupnya, profesi dan
karier yang dijalani dan ditekuni sepanjang hayatnya. Kecakapan ini meliputi
kecakapan dan keterampilan manual atau motorik, mekanik, keterampilan berpikir
dan berlogika.
Pendidikan kecakapan hidup (Life Skill) vokasional dalam Undang-undang nomor 20
tahun 2003 tentang Sistem pendidikan nasional pada pasal 3 tentang fungsi dan
tujuan menyatakan:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan agar berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang
beriman dana bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mandiri dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Meskipun rumusan tersebut tidak secara
jelas menyatakan life skill vokasional, tetapi kalau fungsi dan tujuan tersebut
direalisasikan oleh sistem pendidikan nasional, tentu hasilnya adalah lulusan
yang memiliki kecakapan hidup. Pasal 26 ayat 3 dari Undang-undang tersebut yang
secara jelas menyatakan pendidikan kecakapan hidup justru merupakan rincian
dari pendidikan non formal yang selengkapnya berbunyi:
”...pendidikan nonformal meliputi pendidikan
kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan
pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan
pelatihan kerja, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan
kemampuan warga belajar”.
Pendidikan kecakapan hidup vokasional
bukan mata pelajaran baru sehingga dalam pelaksanaanya tidak perlu menambah mata
pelajaran. Yang perlu dilakukan adalah mengubah orientasi pendidikan dari subject matter oriented menjadi life skills oriented. Dengan prinsip
ini, mata pelajaran bukan tujuan, melainkan sebagai alat untuk dikembangkan kecakapan
hidup di dalamnya. Sehingga
bisa digunakan warga belajar dalam menghadapi kehidupan nyata. (Depdiknas, 2005).
Adapun prinsip umum pelaksanaan kecakapan
hidup sebagaimana ditulis
dalam Implementasi Kurikulum 2004, Depdiknas (2005), meliputi:
1.
Tidak
mengubah sistem pendidikan yang berlaku saat ini.
2. Tidak
harus dengan mengubah kurikulum yang diperlukan pensiasatan kurikulum untuk
diorientasikan pada kecakapan hidup.
3.
Etika
sosio religius bangsa dapat diintegrasikan dalam proses pendidikan.
4. Pembelajaran
menggunakan prinsip learning to know,
learning to do, learning to be, learning tilive to toether.
5.
Pelaksanaan
life skill menerapkan prinsip
manajemen berbasis sekolah
6. Potensi
wilayah lembaga dapat direfleksikan dalam penyelenggaraan pendidikan sesuai
dengan prinsip pendidikan kontekstual.
7. Paradigma
learning for life shool to works
dapat djadikan dasar kegiatan pendidikan, sehingga terjadi bertautan antara
pendidikan dengan kebutuhan nyata warga belajar.
8.
Penyelenggaraan
pendidikan senantiasa diarahkan agar warga belajar:
1) Menuju hidup sehat dan berkualitas
2) Mendapat pengetahuan dan wawasan
3) Memiliki akses untuk mampu memenuhi
standar hidup secara layak.
b.
Tujuan pendidikan kecakapan hidup (life skill) vokasional
Secara umum pendidikan yang berorientasi
pada kecakapan hidup bertujuan memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya,
yaitu mengembangkan potensi manusiawi warga belajar untuk menghadapi peranannya dimasa yang akan
datang (Tim BBE, 2002:8). Hal ini juga sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh
Slamet (2002)
bahwa tujuan utama pendidikan kecakapan hidup adalah menyiapkan warga
belajar agar yang bersangkutan
mampu, sanggup, dan terampil menjaga kelangsungan hidup dan berkembangnya di masa
yang akan datang. Esensi dari pendidikan kecakapan hidup adalah untuk
meningkatkan relevansi pendidikan dengan nilai-nilai kehidupan nyata, baik
preservatif maupun progresif. Lebih spesifiknya menurut Slamet (2002) tujuan
pendidikan kecakapan hidup dapat dikemukakan sebagai berikut: pertama,
memberdayakan aset kualitas bathiniyah, sikap, dan perbuatan lahiriyahnya warga
belajar melalui pengenalan (logos), penghayatan (etos), dan pengalaman (patos) nilai-nilai kehidupan sehari-hari
sehingga dapat digunakan untuk menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya.
Kedua, memberikan wawasan yang luas tentang pengembangan karir, yang dimulai
dari pengenalan diri, eksplorasi karir, orientasi karir, dan penyiapan karir.
Ketiga, memberikan bekal dasar dan latihan-latihan yang dilakukan secara benar
mengenai nilai-nilai kehidupan sehari-hari yang dapat memampukan warga
belajar untuk berfungsi menghadapi
kehidupan masa depan yang sarat kompetisi dan kolaborasi sekaligus. Keempat,
mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lembaga pendidikan melalui pendekatan
manajemen berbasis sekolah dengan mendorong peningkatan kemandirian lembaga,
partisipasi stkakeholders, dan
fleksibilitas pengelolaan sumber daya lembaga. Kelima, memfasilitasi warga
belajar dalam memecahkan
permasalahan yang dihadapi sehari-hari. Sedangkan menurut Mulyani (2004),
mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran kecakapan hidup adalah:
1. Menyajikan
kecakapan berkomunikasi dengan menggunakan berbagai teknik yang memadai bagi
siswa.
2. Mengembangkan
sikap dan perilaku yang sesuai dengan masyarakat masa kini dan memenuhi kebutuhan
di masa datang.
3. Mengembangkan
kemampuan membantu diri dan kecakapan hidup agar setiap warga belajar dapat mandiri.
4. Memperluas
pengetahuan dan kesadaran warga belajar mengenai sumber-sumber dalam masyarakat,
5. Mengembangkan
kecakapan akademik yang akan mendukung kemandirian setiap warga belajar.
6. Mengembagkan
kecakapan pra vokasional dan vokasional dengan memfasilitasi latihan kerja dan
pengalaman kerja di masyarakat.
7.
Mengembangkan
kecakapan memanfaatkan waktu senggang dan melakukan rekreasi.
8. Mengembangkan
kecakapan memecahkan masalah untuk membantu warga belajar memerlukan pengambilan keputusan masa kini dan
masa depan.
Untuk mencapai tujuan pendidikan kecakapan hidup
ini tidak akan lepas dari peran pendidik sebagai pelaksana kurikulum,
fasilitator dan motivator bagi warga belajar melalui kegiatan belajar mengajar di lembaga,
sehingga memiliki bekal kompetensi untuk bekerja dan bermasyarakat dalam
mengarungi kehidupan. Kurikukum sebagai petunjuk jalan untuk mencapai tujuan
pembelajaran dan mata diklat sebagai kendaraan sebagai sopir untuk mengatarkan warga
belajar sampai tujuan pembelajaran
sesuai standar kompetensi yang ditetapkan.
Pendidikan merupakan faktor utama dalam membentuk
pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk perkembangan dan
pendidikan manusia menurut ukuran normatif. Disisi lain proses perkembangan dan
pendidikan manusia tidak hanya terjadi dan dipengaruhi oleh proses pendidkan
yang ada dalam sistem pendidikan saja.
Manusia selama hidupnya selalu akan mendapatkan pengaruh dari sekeluarga, dan
masyarakat luas. Dengan kata lain proses perkembangan pendidikan manusia untuk mencapai
hasil yang maksimal tidak hanya tidak hanya tergantung sebagaimana sistem pendidikan non formal, tidak hanya tergantung pendidikan manusia
untuk mencapai hasil maksimal tidak tergantung tentang bagaimana sistem
pendidikan dijalankan namun juga tergantung pada lingkungan pendidikan yang
berada di luar lingkungan formal.
Lingkungan secara umum diartikan sebagai kesatuan
ruang dengan segala benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup, termasuk manusia dan
perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan
manusia serta mahluk hidup lainya. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar warga
belajar secara aktif dapat mengembangkan
potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Jadi, lingkungan pendidikan dapat diartikan
sebagai berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap praktek
pendidikan. Lingkungan pendidikan sebagai berbagai lingkungan tempat
berlangsungnya proses pendidikan, yang merupakan bagian dari lingkungan sosial.
Di lihat dari warga belajar, tampak bahwa warga belajar secara tetap hidup di dalam lingkungan masyarakat
tertentu tempat ia mengalami pendidikan. Menurut Ki Hajar Dewantoro lingkungan
tersebut meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan
masyarakat, yang disebut tripusat pendidikan atau lingkungan pendidikan.
Lingkungan keluarga merupakan pengelompokan primer yang terdiri dari sejumlah
kecil orang karena hubungan searah. Keluarga dapat berbentuk keluarga inti,
(ayah, ibu dan anak). Menurut Ki Hajar Dewantoro, suasana kehidupan merupakan
tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan individual maupun
pendidikan sosial. Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat
informal, yang pertama dan utama dialami anak serta lembaga pendidikan yang
bersifat kodrati orang tua bertanggungjawab memelihara, merawat, melindungi,
dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Pendidikan keluarga
befungsi: a) sebagai pengalaman pertama masa anak-kanak, b) menjamin kehidupan
emosial anak, c) menanamkan dasar pendidikan moral, d) memberikan dasar
pendidikan sosial, dan e) meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi
anak-anaknya.
Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh
orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai
macam keterampilan. Oleh karena itu anak dikirim ke sekolah-sekolah formal.
Satuan pendidikan merupakan sarana yang secara sengaja dirancang untuk
melaksanakan pendidikan. Semakin maju suatu masyarakat semakin penting peran
sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk dalam proses
pembangunan masyarakat. Satuan pendidikan bertanggungjawab atas pendidikan
anak-anak selama meraka diserahkan kepadanya. Oleh karena itu sebagai sumbangan
sekolah sebagai lembaga terhadap pendidikan, diantaranya sebagai berikut: 1)
satuan pendidikan membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik
serta menanamkan budi pekerti yang baik, 2) Satuan pendidikan memberikan
pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang suka atau tidak dapat di
rumah, 3) satuan pendidikan melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan
seperti: membaca, mernulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmulain sifatnya
mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan, 4) di satuan pendidikan pelajaran
etika, keagamaan, estetika, membenarkan benar atau salah, dan sebagainya. Suatu
alternatif yang mungkin dilakukan sesuai situasi dam kondisi satuan pendidikan,
antara lain: a) pengajaran yang mendidik, b) peningkatan dan pemantapan
pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan di sekolah, c) pengembangan
perpustakaan sekolah menjadi suatu sumber belajar dan d) peningkatan dan
pemantapan program pengelolaan satuan pendidikan.
Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan
lingkungan di luar lingkungan keluarga dan sekolah. Pendidikan yang dialami
dalam masyarakat, telah dimulai beberapa waktu ketika anak-anak telah lepas
dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Dengan
demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas. Corak dan
ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini
meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan
pengertian-pengertian (pengetahuan), sikap dan minat, maupun pembentukan
kesusilaan dan keagamaan. Kaitan antara masyarakat dan pendidikan dapat
ditinjau dari tiga sisi, yaitu: 1) masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan,
2) lembaga-lembaga kemasyarakatan dan kelompok sosial di masyarakat, dan 3)
dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar baik yang dirancang (by design), maupun yang dimanfaatkan (utility).
Masyarakat dapat mempengaruhi karakteristik
seseorang, dan berfungsi: 1) mengajarkan berhubungan dan menyesuakan diri
dengan orang lain, 2) memperkenalkan kehidupan yang lebih luas, 3) menguatkan
sebagian dari nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan masyarakat orang dewasa,
4) memberikan kepada anggota-anggotanya cara-cara untuk membebaskan diri dari
pengaruh kekuatan otoritas, 5) memberikan pengalaman untuk mengadakan hubungan
yyang didasarkan pada prinsip persamaan hak, 6) memberikan pengetahuan yang tidak
bisa diberikan oleh keluarga secara memuaskan, 7) memperluas cakrawala pengalaman
anak, sehingga ia menjadi orang yang lebih kompleks. Lingkungan keluarga
sebagai dasar pembentukan sikap dan sifat manusia, lingkungan sekolah sebagai
bekal keterampilan dan ilmu pengetahuan, sedangkan lingkungan masyarakat
merupakan tempat praktek dari bekal yang diperoleh di keluarga dan sekolah
sekaligus sebagai tempat pengembangan kemampuan diri. Pada intinya pendidikan kecakapan hidup (life skill) membantu warga
belajar dalam mengembangkan
kemampuan belajar, menyadari dan mensyukuri potensi diri untuk dikembangkan dan
diamalkan, berani menghadapi problematika kehidupan, serta memecahkannya secara
kreatif. Prinsip pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup dilakukans secara berkelanjutan
sejak usia dini hingga sekolah menengah dan bahkan perguruan tinggi. Akan tetapi
praktek pengembangannya pendidikan kecakapan hidup tetap mempertimbangkan
tingkat perkembangan warga belajar sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikan
Pendidikan peningkatan mutu pendidikan merupakan
sebuah komitmen bersama yang harus dipegang teguh. Oleh karena itu, pendidikan
kecakapan hidup sebagai salah satu upaya dalam melahirkan generasi yang bukan
hanya mampu hidup tetapi juga mampu bertahan hidup, dan bahkan dapat unggul (excel) dalam kehidupan di kemudian hari.
Pendidikan pendidikan kecakapan hidup pada jenjang pendidikan dasar lebih menekankan kepada kecakapan hidup umum (generic life skill), yaitu mencakup
aspek kecakapan personal (personal skill)
dan kecakapan sosial (social skill).
Persyaratan dasar life skills yang dikembangkan oleh Direktorat Kepemudaan Dirjen
PLSP (2003) meliputi empat bagian, yaitu:
1. Keterampilan
yang dikembangkan berdasarkan minat dan kebutuhan individu dan/atau kelompok
sasaran.
2. Terkait
dengan karakteristik potensi wilayah setempat (sumber daya alam dan potensi
sosial budaya)
3.
Dapat
dikembangkan secara nyata sebagai dasar sektor usaha kecil atau industri rumah
tangga.
4.
Berorientasi
kepada peningkatan kompetensi keterampilan untuk berusaha dan bekerja, sehingga
tidak terlalu teoritik namun lebih bersifat aplikatif operasional
Secara umum dapat dikatakan
bahwa kecakapan hidup yang diberikan sampai dengan jenjang pendidikan menengah
Paket C setara SMA/SMK/MA lebih berorientasi pada upaya mempersiapkan warga
belajar menghadap era informasi dan era globalisasi. Pada intinya pendidikan kecakapan hidup ini
membantu dan membekali warga belajar dalam pengembangan kemampuan belajar, menyadari dan mensyukuri potensi
diri, berani menghadapi problema kehidupan, serta mampu memecahkan persoalan secara kreatif.
Pendidikan kecakapan hidup bukan mata
perlajaran baru, akan tetapi sebagai alat dan bukan sebagai tujuan.
Implementasi konsep life skills
terkait dengan kondisi warga belajar dan lingkungannya seperti substansi yang dipelajari, karakter warga
belajar, kondisi lembaga dan
lingkunganya. Prinsip dalam implementasi life skill vokasional lebih kepada
pembelajaran konstektual, yaitu adanya keterkaitan antara kehidupan nyata
dengan lingkungan dan pengalaman warga belajar. Pendidikan bermutu, selain dikembangkan
melalui transformasi nilai-nilai positif, juga diselenggarakan sebagai alat
untuk memberdayakan semua potensi warga belajar menuju tingkat kesempurnaan.
Oleh karena itu, pendidikan bermutu bukan sekadar mempersiapkan warga belajar
menjadi manusia yang besar, bermakna, dan bermarifaat di zamannya, tapi juga
dapat membekali warga belajar menghadap Allah Swt. di alam yang teramat abadi
kelak.
Implementasi Pendidikan kecakapan hidup (Life Skill) terintegrasi dengan beragam mata pelajaran
yang ada disemua jenis dan jenjang pendidikan. Misalnya pada mata pelajaran
Matematika yang mengintegrasikan life skill di dalamnya, selain mengajarkan warga
belajar agar pandai matematika, juga
pandai memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti: membaca data,
menganalisa data, membuat kesimpulan, mempelajari ilmu lain, dan sebaginya.
Dalam melaksanakan
implementasi menggunakan langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam
menjabarkan kecakapan hidup yang terintegrasi dalam mata pelajaran, antara
lain:
1. Melakukan identifikasi unsur kecakapan
hidup yang dikembangkan dalam kehidupan nyata yang dituangkan dalam bentuk
kegiatan pembelajaran.
2. Melakukan identifikasi pengetahuan,
keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang mendukung kecakapan hidup.
3. Mengklarifikasi dalam bentuk topik/tema
dari mata pelajaran yang sesuai dengan keckapan hidup.
4. Menentukan metode pembelajaran.
5. Merancang bentuk dan jenis penilaian.
Implementasi kecakapan hidup menyiapakan silabus
yang perlu dijabarkan dalam
rencana pelaksanaan pembelajaran. Oleh karena itu, silabus harus dikaji dan
dikembangkan secara berkelanjutan dengan memperhatikan masukan dari evaluasi
hasil belajar, evaluasi proses (pelaksanaan pembelajaran), dan evaluasi hasil pembelajaran.
Evaluasi dan Pengendalian dapat
diklasifikasikan kedalam penilaian eksternal dan penilaian internal. Penilaian
eksternal merupakan penilaian yang dilakukan oleh pihak lain yang tidak
melaksanakan proses pembelajaran. Penilaian eksternal dilakukan oleh suatu
lembaga, baik dalammaupun luar negeri, dimaksudkan antara lain untuk pengendali
mutu. Penilaian internal adalah
penilaian yang dilakukan dan direncanakan oleh tutor pada saat proses pembelajaran berlangsung dalam
rangka penjaminan mutu.
Penilaian internal (internal assessment) terhadap hasil belajar warga belajar yang dilakukan oleh tutor untuk menilai kompetensinya pada tingkat
tertentu pada saat dan akhir pembelajaran, sehingga dapat diketahui
perkembangnnya dan ketercapainya berbagai kompetensi warga belajar. Penilaian
kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah
perencanaan, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan
pencapaian hasil belajar warga
belajar, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar warga belajar. Penilaian kelas
dilaksanakan melalui berbagai cara: test tertulis, penilaian hasil kerja warga
belajar melalui kumpulan hasil kerja/karya warga belajar, penilaian
produk, penilaian proyek dan penilaian unjuk kerja warga belajar dengan
penilaian hasil belajar.
Hasil penilaian belajar baik formal maupun nonformal diadakan dalamsuasana yang menyenangkan, sehingga
memungkinkan warga belajar menunjukkan apa yang dipahami dan mampu
dikerjakannya, hasil belajar
seseorang tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta lainya, tetapi
dengan hasil yang dimiliki warga belajar tersebut sebelumnya, tutor membantu untukmencapai apa yang diharapkan.
Tujuan penilaian kelas adalah untuk menilai kompetensi warga
belajar pada tingkat tertentu pada saat proses dan akhir pembelajaran, sehingga
dapat diketahui perkembangan dan ketercapaian berbagai kompetensi yang telah
dicapai warga belajar. Dalam
melakukan penilaian, sebaiknya tutor memegang prinsip penilaian sebagai berikut:
1.
Memandang
penilaian dan kegiatan belajar mengajar secara terpadu.
2.
Mengembangkan
strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri.
3. melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program pengajaran
untuk menyediakan berbagai jenis informasi tentang hasil belajar warga belajar.
4.
mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus warga
belajar.
5. mengembangkan danmenyediakan sistem pencatatan yang
bervariasi dalam pengamatan kegiatan belajar warga belajar.
6.
menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi.
Agar
penilaian objektif, tutor harus berupaya secara optimal untuk memanfaatkan
berbagai bukti hasil kerja warga belajar dan tingkah laku dari sejumlah hasil penilaian dan membuat keputusan
secara adil tentang penguasaan kompetensi warga belajar dengan mempertimbangkan hasil kerja/karyanya.
Teknik penilaian dapat dilakukan untuk
mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar warga belajar, baik yang
berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar. Pengumpulan informasi pada prinsipnya adalah cara penilaian
kemajuan belajar warga belajar berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai.
Penilaian kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian
kompetensi yang memuat satu ranah atau lebih. Dengan indikator-indikator ini,
dapat ditentukan penilaian yang sesuai. Untuk itu,
ada tujuh teknik yang dapat digunakan, yaitu: (1) penilaian unjuk kerja, (2)
penilaian sikap, (3) penilaian tertulis, (4) penilaian proyek, (5) penilaian
produk, (6) penggunaan portofolio, dan (7) penilaian diri.
Tindak
lanjut (action plan) merupakan langkah penting untukdilakukan
sebagai suatu rencana kegiatan untuk memaksimalkan atau mengoptimalkan
ketercapaian kompetensi warga belajar. Tindak lanjut ini dipergunakan sebagai alat untuk memantau dan
mengevaluasi efektifitas pelaksanaan proses pembelajaran itu sendiri. Dalam
implementasinya silabus harus dikaji dan dikembangkan secara berkelanjutan
dengan memperhatikan masukan hasil penilaian terhasil hasil belajar, proses,
pelaksanaan pembelajaran, serta evaluasi rencana pembelajaran.
c.
Langkah-langkah manajemen pendidikan
kecakapan hidup (life skill)
Vokasional
Proses manajemen strategis meliputi empat elemen
dasar: (1) Pengamatan/analisis lingkungan, (2) Perumusan strategi, (3) implementasi strategi, dan (4) evaluasi dan pengendalian.
1.
Pengamatan/analisis
lingkungan (environmental scanning)
Lingkungan eksternal terdiri dari kesempatan/peluang (Opportunity)
dan ancaman (Threat) yang berada di luar
organisasi dan tindakan khusus ada dalam pengendalian jangka pendek dari
manajemen puncak. Lingkungan eksternal memiliki dua bagian: lingkungan kerja
dan lingkungan sosial. Lingkungan kerja terdiri dari kelompok langsung yang
berpengaruh atau dipengaruhi oleh operasi-operasi utama organisasi salah
satunya pemerintah, komunitas lokal, pesaing, pelanggan, kelompok kepentingan
khusus dan lain-lain. Lingkungan sosial yang merupakan lingkungan
sekitar terdiri dari kondisi geografis, karakteristik masyarakat, mata
pencaharian, dan lain-lain.
Lingkungan internal terdiri dari
kekuatan (Strenght) dan kelemahan (Weakness) yang ada di dalam organisasi tetapi biasanya tidak
dalam pengendalian jangka pendek manajemen puncak. Hal tersebut membentuk
suasana dimana pekerjaan dilakukan meliputi: struktur, budaya organisasi
dan sumber daya organsasi. Struktur adalah cara bagaimana perusahan
diorganisasikan yang berkenaan dengan komunikasi, wewenang, dan arus kerja. Struktur secara grafis dengan menggunakan bagan organisasi.
Budaya adalah pola keyakinan, pengharapan, dan nilai-nilai yang dibanggakan oleh anggota organisasi. Norma-norma organisasi secara khusus
memunculkan dan mendefinisikan perilaku yang dapat diterima anggota dari manajemen puncak sampai karyawan operatif.
Sumber daya adalah yang merupakan bahan baku bagi produksi barang dan jasa
organisasi. Aset itu meliputi
keahlian orang, kemampuan, dan bakat manajerial. Tujuan utama dalam manajemen strategis adalah
memadukan variabel-variabel internal perusahaan untuk
memberikan kompetensi unik, yang memampukan perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetitif secara terus menerus,
sehingga menghasilkan laba.
2.
Perumusan strategi (strategy
formulation)
Perumusan strategi adalah
pengembangan rencana jangka panjang untuk manajemen efektif dari kesempatan dan
ancaman lingkungan, di lihat dari kekuatan dan kelembahan perusahaan. Perumusan strategi meliputi menentukan misi perusahaan,
menentukan tujuan-tujuan yang dapat dicapai, pengembangan strategi, dan
penetapan pedoman kebijakan.
Misi adalah tujuan atau alasan mengapa organisasi hidup. Pernyataan misi yang disusun dengan baik mendefinisikan tujuan
mendasar dan unik yang membedakan suatu perusahaan dengan perusahaan laindan mengidentifikasi
jangkauan operasi perusahaan dalam produk yang ditawarkan dan pasar yang
dilayani. Misi mengembangkan
harapan para karyawan dan mengkomunikasikan pandangan umum
untuk kelompok pemegang keputusan dalam lingkungan kerja perusahaan. Misi ditetapkan
secara menyeluruh. Misi sempit menegaskan secara jelas bisnis utama organisasi, misi ini juga jelas membatasi jangkuan aktivitas
perusahaan yang berhubungan
dengan produk atau jasa yang ditawarkan, teknologi yang digunakan, dan pasar yang dilayani. Misi luas melebarkan jangkauan aktivitas organisasi untuk
memasukkan banyak tipe produk atau jasa, pasar dan teknologi. Masalah dengan
pernyataan misi luas adalah tidak mengidentifikasi secara jelas aspek mana dari
jasa yang ingin ditekankan dan mungkin membingungkan
karyawan dan pelanggan. Tujuan adalah hasil akhir aktivitas perusahaan.
Tujuan merupakan apa yang akan diselesaikan dan kapan akan diselesaikan, dan
sebaiknya diukur jika memungkinkan. Pencapaian tujuan perusahaan merupakan
hasil dari penyelesaiaan misi. Strategis organisasi merupakan rumusan perencanaan komprehensif tentang bagaimana organisasi akan mencapai misi dan tujuannya. Strategi akan
memaksimalkan keunggulan kompetitif dan meminimalkan keterbatasan bersaing. Sedangkan kebijakan
menyediakan pedoman luas
untuk pengambilan keputusan organisasi secara keseluruhan. Kebijakan
juga merupakan pedoman luas yang menghubungkan perumusan strategi dan implementasi.
3.
Implementasi
strategi (strategy
implementation)
Implementasi strategi adalah proses dimana manajemen mewujudkan strategi dan kebijakannya dalam tindakan melalui
pengembangan program,
anggaran, dan prosedur. Proses tersebut mungkin meliputi perubahan budaya
secara menyeluruh, struktur dan atau sistem manajemen dari organisasi secara
keseluruhan. Kecuali ketika diperlukan perubahan secara drastis pada organisasi, manajer level menengah dan
bawah akan mengimplementasikan
strateginya secara khusus dengan pertimbangan dari manajemen puncak.
Kadang-kadang dirujuk sebagai
perencanaan operasional, implementasi strategis sering melibatkan keputusan sehari-hari dalam alokasi sumber daya. Program adalah pernyataan aktivitas-aktivitas atau
langkah-langkah yang diperlukan
untuk menyelesaikan perencanaan
sekali pakai. Program melibatkan
restrukturisasi organisasi, organisasi budaya internal organisasi, atau awal
dari suasana usaha penelitian baru. Implementasi mungkin juga meliputi serangkaian
program periklanan dan promosi untuk mendorong minat pelanggan terhadap produk
dan jasa organisasi.
Anggaran adalah program yang dinyatakan dalam bentuk satuan uang, setiap
program akan dinyatakan secara rinci dalam biaya, yang dapat digunakan oleh
manajemen untuk merencanakan dan mengendalikan. Banyak perusahan/organisasi
meminta persentase yang pasti
dari tingkat pengembalian investasi, yang biasa disebut rintangan (hurdle rate), sebelum manajemen menyetujui suatu program. Hal itu
untuk memastikan bahwa
program baru tersebut akan
secara signifikan menambah
kinerja keuntungan (laba) organisasi yang bernilai bagi pemegang sahan/pemilik. Prosedur, kadang-kadang disebut Standard Operating Prosedures (SOP). Prosedur
adalah sistem lagkah-langkah
atau teknik-teknik yang berurutan yang menggambarkan secara rinci bagaimana suatu tugas atau pekerjaan
diselesaikan Prosedur secara khusus merinci berbagai aktvitas yang harus
dikerjakan untuk menyelesaikan program-program organisasi.
4.
Evaluasi
dan Pengendalian (evaluation and
control)
Evaluasi dan pengendalian adalah proses yang melalui aktivitas-aktivitas organisasi dan hasil kinerja dimonitor dan kinerja
sesungguhnya dibandingkan dengan kinerja yang diinginkan. Para manajer di semua
level menggunakan informasi hasil kinerja untuk melakukan tindakan perbaikan
dan memecahkan masalah. Walaupun evaluasi dan pengendalian merupakan elemen
akhir yang utama dari manajemen strategis, elemen itu juga dapat menunjukkan
secara tepat kelembahan-kelemahan dalam implementasi strategi sebelumnya dan mendorong proses
keseluruhan untuk dimulai
kembali. Agar evaluasi dan pengendalian efektif, manajer harus mendapatkan umpan balik yang jelas, tepat, dan
tidak bisa dari orang-orang
bawahannya yang ada dalam hirarki organisasi. Model manajemen strategis menunjukkan bagaimana umpan balik dalam
bentuk data kinerja dan laporan aktivitas dijalankan melalui seluruh proses manajemen.
Dengan menggunakan umpan balik tersebut, manajer membandingkan apa yang
sesungguhnya terjadi dengan apa yang sesungguhnya direncanakan dalam tingkat
perumusan.
Daftar Pustaka
Anwar. (2004). Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills
Education):Konsep dan Aplikasi.Bandung:Alfabeta.
Ditjen PLSP. (2003).
Program Life Skils Melalui
Pendekatan Broad Based Education (BBE). Jakarta: Direktorat Tenaga
Teknis Depdiknas.